Blok Montara

YPTB sebagai lembaga yang tak henti-hentinya berjuang mempertahankan martabat rakyat NTT khususnya di Timor Barat terus bertanya, sejauh mana keseriusan pemerintah dalam penanganan pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak Blok Montara.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Selat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selat. Tampilkan semua postingan

31/01/12

Upaya Diplomasi Menyelesaikan Sengketa Perbatasan

Upaya diplomasi Indonesia dalam mempertahankan dan menjaga keutuhan wilayah NKRI adalah sesuatu yang tidak dapat dikompromikan. Perundingan mengenai masalah perbatasan merupakan suatu keharusan yang diamanatkan oleh hukum nasional maupun hukum internasional. Untuk itu, pemerintah Indonesia akan terus mengupayakan percepatan perundingan untuk penyelesaian delimitasi dan pengelolaan perbatasan dengan negar-negara tetangga yang memiliki perbatasan dengan Indonesia.

Terkait insiden penangkapan petugas KKP, hal ini terjadi karena masih adanya overlapping claim di perairan sekitar pulau Bintan. Klaim indonesia terhadap garis batas diwilayah perairan tersebut sudah jelas. Namun, perundingan untuk menyelesaikan overlapping claim tersebut masih terkendala oleh belum tuntasnya status kepemilikan gugus karang South Ledge antara pihak Singapura dan Malaysia.

Kedua negara tersebut masih harus menindaklanjuti salah satu hasil keputusan dan rekomendasi International Courth of Justice (ICJ) pada pada tanggal 23 mei 2008 mengenai sengketa kepemilikan dan kedaualatan atas gugus karang yang dikenal sebagai Pedra Branch/Batu Puteh, Middle Rock dan South Ledge. Mahkamah internasional telah memutuskan bahwa kepemilikan Pedra Branca jatuh kepada Singapura, Kepemilikan Middle Rocks jatuh pada Malaysia sedangkan South Ledge, akan dimiliki oleh negara yang laut teritorialnya mencakup daerah bantuan South Ledge. Berdasarkan keputusan Mahkamah internasional tersebut, maka Malaysaia dan Singapura harus merundingkan masalah kepemilikan South Ledge.

Penyelesaian batas maritim antara Indonesia dengan Malaysia di kawasan utara perairan pulau Bintan sangat ditentukan oleh kepastian status kepemilikan South Ledge (yang berhadapan dengan Indonesia) yang saat ini masih dalam proses perundingan antara Malaysia dan Singapura. Secara keseluruhan upaya penyelesaian batas maritim antara Indonesia dengan Malaysia dilakukan 4 segmen yaitu ; Segmen Selat Malaka, Segmen Selat Malaka Selatan (merupakan Segmen dimana terjadi insiden), Segmen laut China Selatan dan Segmen Laut Sulawesi.

Segmen Selat Malaka
Pada Segmen Selat Malaka, perundingan yang telah dituntaskan adalah ; persetujuan garis batas landas kontinen tahun 1969 yang ditandantangani di Kuala Lumpur dan telah diratifikasi dengan Keppres No. 89/1969.
Perjanjian garis batas laut wilayah tahun 1970 yang ditandatangani di Kuala Lumpur dan telah diratifikasi dengan UU No. 2/1971.
Persetujuan batas kontinen (trilateral dengan Malaysia dan Thailand) yang ditandatangani di Kuala Lumpur dan telah diratifikasi dengan Keppres No. 2/1972.
Perundingan yang masih berlangsung adalah mengenai batas ZEE Indonesia – Malaysia. Permasalahannya adalah dengan disepakatinya garis batas landas kontinen tahun 1969 (butir 7.a ditas), pihak Malaysia berpandangan bahwa landas kontinen sama dengan batas ZEE. Indoensia berpandangan bahwa landas kontinen dan ZEE merupakan dua rezim hukum yang berbeda dan oleh karena itu masih perlu dilakukan perundingan untuk menetapkan ZEE. Dalam kaitan, ini dalam berbagai kesempatan Indonesia mendesak untuk dilakukannya perundingan.

Segmen Selat Malaka Selatan
Pada segmen Selat Malaka Selatan perundingan masih berlangsung untuk menyeleseaikan garis batas laut wilayah ke dua negara di kawasan utara perairan Pulau Bintan. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa penyelesaian batas maritim antara Indonesia dengan Malaysia di kawasan tersebut sangat ditentukan oleh kepastian status kepemilikan South Ledge.

Segmen Laut China Selatan
Pada segmen Laut China Selatan perundingan yang telah dituntaskan adalah Persetujuan garis batas Landas Kontinen tahun 1969 yang ditandatangani di Kuala Lumpur dan telah diratifikasi dengan Keppres No.89/1969.
Perundingan yang masih berlangsung adalah mengenai batas ZEE Indonesia-Malaysia. Pihak Malaysia sampai saat ini belum siap untuk membahasnya karena berkeinginan untuk dapat fokus pada segmen lainnya. Dalam kaitan ini, dalam berbagai kesempatan Indonesia terus mendesak untuk dilakukannya perundingan, tanpa harus menunggu selesainya perundingan pada segmen lain.

Segmen Laut Sulawesi
Pada segmen Laut Sulawesi perundingan masih berlangsung untuk menyelesaikan garis batas laut wilayah, landas kontinen dan ZEE kedua negara di Laut Sulawesi. Perundingan berjalan lambat karena perbedaan posisi mendasar terhadap status keberadaan konsesi minyak yang telah beroperasi di Laut Sulawesi.
Perundingan batas maritim antara Indonesia dan Malaysia dilakukan sejak 2005 dimana rangkaian pertemuan tersebut merupakan implementasi dari kesepakatan antara dua Kepala Pemerintahan. Sampai dengan 2010 telah dilaksanakan sebanyak 15 (lima belas) kali perundingan pada tingkat teknis.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan Menlu RI dengan Menlu Malaysia bulan Juni 2010 yang lalu, pertemuan bilateral Joint Ministerial Commision akan diselenggarakan pada bulan September 2010. Forum ini selain membahas hubungan bilateral secara komprehensif akan juga mengevaluasi kemajuan perundingan bilateral atas isu-isu perbatasan.

Insiden yang terjadi juga menggarisbawahi perlu ditetapkannya Standard Operating Procedure (SOP) dengan pihak Malaysia, khususnya bagi petugas di lapangan guna menghindari terulangnya kasus serupa di masa depan. Selain itu, secara internal, Pemri kiranya perlu mengkaji modalitas yang paling efektif dalam menjaga dan mengamankan kekayaan alam laut Indonesia dari pencurian ikan.

Sesuai dengan mandat UU No. 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, Kementerian Luar negeri secara berkesinambungan dan asertif telah mengimplementasikan border diplomacy-nya dan melanjutkan rangkaian-rangkaian perundingan penetapan batas maritim dengan negara-negara tetangga. Insiden yang terjadi diharapkan dapat menjadi pendorong lebih lanjut penyelesaian penetapan batas maritim yang saat ini masih dirundingkan sehingga akan terjaminnya kepastian hukum wilayah Indonesia.

Sumber : Dirjen HPI

Kapal Perang AS Kembali Dekati Teluk Persia

Dua kapal Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) yakni kapal selam nuklir USS Annapolis dan kapal distroyer USS Momsen dilaporkan telah melewati Terusan Suez menuju Laut Merah.

Meski AS merahasiakan tujuan kedua kapal perangnya itu, namun sebuah laporan menyebutkan armada perang AS itu kini semakin mendekat ke wilayah Teluk Persia.

Sementara itu otoritas Terusan Suez mengatakan, demi alasan mereka harus menutup jalur itu dan menangguhkan lalu lintas kapal lainnya selama empat jam. Ini Dilakukan ketika kedua kapal AS melintasi wilayah itu. Demikian dilaporkan kantor berita Interfax seperti dikutip rt.com, Selasa, (31/1/2012).

Berita ini muncul di tengah memanasnya hubungan Washington dan Teheran. Spekulasi yang muncul menyebutkan, USS Annapolis dan kapal jenis destroyer Momsen tengah dalam perjalanan menuju Teluk Persia untuk memperkuat AL AS yang sudah berada di wilayah itu sebelumnya.

Sebelumnya dua kapal perang AS USS Abraham Lincoln dan USS Carl Vinson dilaporkan telah lebih dulu berada di Teluk Persia. Laporan lain menyebutkan, kapal induk lainnya yakni, USS Enterprise dikabarkan akan segera menyusul pada Maret mendatang.

Sejak Uni Eropa mendukung sanksi Barat dengan melakukan embargo terhadap minyak Iran, Negara Persia itu kembali melontarkan ancaman pihaknya akan menggunakan kekuatan militer untuk menutup Selat Hormuz.

Menanggapi ancaman Iran itu, Pemerintah Kuwait mengatakan negara-negara Arab berencana untuk meningkatkan jumlah Angkatan Laut dan penjaga pantai untuk mencegah Iran menjalankan ancamannya itu.

26/01/12

Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Rawan Melonjak 30%

Embargo yang dilakukan oleh negara Uni Eropa (UE) terhadap Iran berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah 30 persen.

Mengutip Reuters, Kamis (26/1/2012), International Monetery Fund (IMF) memperkirakan harga minyak mentah global dapat naik sebanyak 30 persen jika Iran benar menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur pasokan migas ekspor minyak sebagai akibat dari sanksi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Dengan penghentian ekspor minyak terhadap negara-negara tanpa alternatif pasokan minyak, maka akan memicu sebuah lonjakan awal pada harga minyak antara 20-30 persen, atau sekitar USD20-USD30 per barel. IMF menyoroti risiko meningkatnya ketegangan atas sanksi Iran pada pertemuan wakil dari negara-negara G20 yang bertemu di Mexico City minggu lalu.

Sanksi tersebut, diberikan Presiden AS Barack Obama sebagai sebuah langkah yang bertujuan mencabut program nuklir di wilayah Teheran, Iran. Pemerintah AS yakin, Iran berusaha membangun senjata nuklir. Hasilnya, Uni Eropa juga akan memberikan larangan pada Iran untuk mengekspor minyak.

Selain itu, IMF menyatakan, sanksi keuangan terhadap Teheran hasilnya akan sama dengan embargo minyak dan akan menimbulkan penurunan pada pasokan minyak sekitar 1,5 juta barel per hari (bph) dari lima produsen minyak terbesar dunia.

Gangguan pasokan ini, diprediksi sebanding dengan kerugian dalam output kala perang sipil di Libya tahun lalu, yang mendorong harga minyak naik lebih dari USD100 per barel, karena Iran mengekspor sekitar 2,6 juta bph atau sekira 20 persen minyak global.

Namun, dengan adanya proyeksi penurunan tajam dalam pertumbuhan ekonomii dunia. Pada 2012, IMF memperkirakan harga minyak pada 2012 akan berada di kisaran USD99 per barel, turun dibandingkan perkiraan tiga bulan lalu sebesar USD100 per barel.

Pandangan ini, didasarkan pada data yang menunjukkan terbatasnya persediaan dan kapasitas cadangan, dan proyeksi akan permintaan minyak yang tidak melambat meskipun pertumbuhan negara maju dan negara berkembang akan terkoreksi.

23/01/12

Perancis-Inggris Gabung AS di Selat Hormuz

Kapal-kapal Inggris dan Perancis bergabung dengan kelompok kapal induk Amerika Serikat dalam armada enam kapal perang yang melewati perairan sensitif Selat Hormuz, kata Departemen Pertahanan Inggris Minggu (22/1/2012).

Kementerian itu mengatakan, satu kapal Angkatan Laut Kerajaan, HMS Argyll, merupakan bagian dari kelompok kapal induk yang dipimpin Amerika Serikat berlayar melalui Selat Hormuz, di mana Iran telah mengancam untuk menutup setelah tindakan Barat menjatuhkan sanksi-sanksi baru atas program nuklir Teheran.

Seorang juru bicara mengatakan: "HMS Argyll dan satu kapal Perancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS transit melalui Selat Hormuz, untuk menggarisbawahi komitmen internasional tak tergoyahkan mereka dalam mempertahankan hak-hak berdasarkan hukum internasional."

Ia mengatakan Inggris mempertahankan "kehadiran terus -menerus di wilayah itu sebagai bagian dari kontribusi abadi kita untuk keamanan Teluk". Kapal perang Inggris telah berpatroli di Teluk terus menerus sejak tahun 1980-an. Selat Hormuz adalah rute transit utama untuk pasokan minyak global.

Para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu di Brussels pada Senin yang diperkirakan setuju terhadap pemberian sanksi kepada Bank Sentral Iran dan mengumumkan embargo pembelian minyak Iran. Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan Jerman menuduh Iran berusaha membangun bom nuklir, namun Teheran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan damai. 
Sumber :ANT, AFP

21/01/12

Penutupan Selat Hormuz Masih Jadi Opsi Iran

"Iran tidak akan mencoba untuk memblokir Selat Hormuz kecuali jika kekuatan asing berusaha untuk "mengetatkan jerat" dalam pertikaian nuklir yang terus meningkat dengan Barat" kata Mohammad Khazaee, Duta Besar Iran untuk PBB pada acara Charlie Rose di televisi Amerika Serika, Kamis (19/1/2012).
Ia mengacu pada strategi rute pelayaran, yang merupakan jalur penting bagi seperlima perdagangan minyak dunia.

"Tidak ada keputusan untuk memblokir dan menutup Selat Hormuz kecuali Iran terancam serius dan seseorang ingin mengencangkan simpulnya," kata Khazaee di acara Charlie Rose. "Kami percaya bahwa Selat Hormuz harus menjadi selat perdamaian dan stabilitas," tambah utusan itu. "Tetapi jika kekuatan asing ingin membuat masalah di Teluk Persia, tentu saja akan menjadi hak Iran serta negara-negara lainnya di kawasan itu untuk mencoba membela diri."

Di tengah spekulasi yang berkembang tentang sebuah serangan militer terhadap fasilitas nuklir Iran, Khazaee mengatakan, ketegangan yang meningkat harus diakhiri melalui "perdamaian, dialog, dan stabilitas."

Iran telah menuduh Israel terlibat dalam pembunuhan ilmuwan nuklirnya. Namun Duta Besar itu mengatakan, dia tidak berpikir Israel akan mencoba untuk membom fasilitas nuklir Iran. "Ada cukup banyak politisi yang bijak di seluruh dunia untuk menasihati mereka dalam kasus jika mereka ingin melakukan itu, agar tidak melakukannya," katanya.

Amerika Serikat, Perancis, Inggris, dan Jerman menuduh Iran sedang berupaya untuk membangun bom nuklir. Iran berulang kali mengatakan, program atomnya untuk kepentingan damai. PBB mengatakan, saat ini ada "kebutuhan mendesak" untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Barat melalui dialog.

Solusi itu "juga mencakup kebutuhan pada pihak Pemerintah Iran untuk membuktikan kepada masyarakat internasional bahwa nuklir mereka adalah program untuk tujuan damai," kata juru bicara PBB Martin Nesirky. Dia menambahkan, karena Selat Hormuz berperan penting untuk pasokan minyak, maka Sekjen PBB Ban Ki-moon percaya "adalah penting bahwa wilayah perlintasan bebas itu dijamin sesuai dengan hukum laut."

Ban telah membahas ketegangan Iran dengan para pemimpin dari China dan negara-negara Teluk selama pembicaraan dalam beberapa hari terakhir.

Sumber :ANT, AFP

20/01/12

Kapal Induk AS Uji Ancaman Iran

USS Abraham Lincoln
Kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di Laut Arab, Kamis (19/1/2012), kata para pejabat Angkatan Laut AS. CNN melaporkan, kedatangan kapal itu bisa menjadi permulaan untuk menguji peringatan Iran baru-baru ini terhadap pengiriman sebuah kapal induk AS ke kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.

Lincoln bergabung dengan USS Carl Vinson yang sudah lebih dulu berada di wilayah tersebut. Dengan begitu Angkatan Laut AS kini kembali pakem operasinya, yaitu menempatkan dua kapal induk di sana. Kapal induk USS John Stennis meninggalkan kawasan itu beberapa waktu lalu dan sekarang dalam perjalanan pulang melalui Pasifik Barat.

Lincoln merupakan kapal induk AS pertama yang berlayar kembali ke Teluk Persia melalui Selat Hormuz sejak ketegangan dengan Iran meningkat. Para pejabat militer AS mengatakan kepada CNN, AS akan melanjutkan komitmen jangka panjang militernya untuk menempatkan sebuah kapal induk di Teluk, tetapi tidak akan mengatakan kapan kapal itu melintasi Selat Hormuz terkait masalah keamanan dengan Iran.

Beberapa minggu lalu, saat Stennis meninggalkan Teluk, para pejabat Iran memperingatkan AS untuk tidak mengirimkan sebuah kapal induk lain. Dalam beberapa tahun terakhir, AS telah menempatkan satu kapal induk di Teluk dan satu di Laut Arab Utara untuk jangka waktu yang lama.

Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, mengatakan, kehadiran angkatan laut dan militer AS di wilayah tersebut tidak akan berubah dan tingkat kehadiran saat ini dinilai cukup untuk menangani setiap situasi yang mungkin timbul.

"Kami selalu mempertahankan kehadiran yang sangat kuat di daerah itu," kata Panetta, Rabu. "Kami punya armada Angkatan Laut yang terletak di sana. Kami memiliki kehadiran militer di wilayah itu. Dan kami secara terus-menerus mempertahankan kehadiran yang kuat di kawasan tersebut untuk membuat jelas bahwa kami akan melakukan segala kemungkinan demi membantu mengamankan perdamaian di belahan dunia itu."

Seorang pejabat senior AS mengakui, Pentagon terus melihat Angkatan Laut Iran yang dikontrol Korps Garda Revolusi Iran di Teluk Persia sebagai yang lebih agresif ketimbang angkatan laut biasa.
Sumber : CNN

05/01/12

Iran Ancam Kapal Induk AS

Brigadir Jenderal Ataollah Salehi
Selasa, 3 Januari 2012 /1/2012,  Iran melalui Kepala Staf Angkatan Darat Brigadir Jenderal Ataollah Salehi kepada kantor berita resmi Iran IRNA, mengancam akan mengambil tindakan apabila kapal induk Amerika Serikat, yang pekan lalu meninggalkan Teluk Persia menuju Laut Oman melewati zona latihan militer Iran, kembali lagi ke Teluk Persia.

 Kapal induk yang dimaksud Salehi adalah USS John C Stennis (CVN-74), salah satu kapal induk bertenaga nuklir terbaru andalan Angkatan Laut AS (US Navy). Kapal tersebut didampingi kapal penjelajah berpeluru kendali USS Mobile Bay yang pekan lalu bergerak keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz menuju kawasan di Laut Oman tempat latihan militer besar-besaran AL Iran. 

Pihak Departemen Pertahanan AS mengatakan, pelayaran kapal tersebut adalah pelayaran rutin yang sudah dijadwalkan jauh hari sebelumnya, dan tak ada kaitannya dengan latihan militer Iran. Armada Kelima US Navy berpangkalan di Bahrain, negara pulau yang terletak di dalam Teluk Persia. AS selalu menempatkan paling tidak satu gugus tempur kapal induk di dalam atau di dekat Teluk Persia sepanjang waktu untuk menjaga jalur penting pasokan minyak dunia.

Iran dan AS saling mengancam setelah Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz apabila negara-negara Barat menerapkan embargo minyak dan AS membalas dengan ancaman tidak akan menoleransi tindakan itu.

Sumber : AFP/Reuters

03/01/12

Sanksi AS Disambut Uji Rudal

Iran memasang rudalnya di atas kapal-kapal perang Angkatan Lautnya sejak dimulainya latihan perang dekat Selat Hormuz pada 24 Desember. Latihan perang yang berakhir pada Senin 2 Januari 2012 ditutup dengan uji  rudal serta mempraktikkan formasi taktik baru untuk menutup selat Hormuz jika diperlukan. 
“Rudal yang dibuat oleh para pakar Iran ini berhasil mengenai target dan menghancurkannya. Ini pertama kali rudal Ghader diuji coba,” ungkap Juru Bicara Angkatan Laut Iran Komodor Mahmoud Mousavi, dikutip AFP. “Angkatan Laut Iran telah menguji coba dua tipe rudal lainnya pada Senin (2/1), yakni rudal Nour dari darat ke udara yang memiliki jangkauan 200 kilometer dan rudal anti-kapal Nasr yang berjarak pendek,”imbuhnya.
Pemimpin Iran telah memperingatkan bahwa penambahan sanksi Barat dapat memaksa mereka menutup Selat Hormuz yang menjadi pusat transit 20% minyak dunia.
“Tidak setetes minyakpun melintasi Selat Hormuz jika sanksi-sanksi diberlakukan,” kata Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Rahimi.
 Iran juga mengumumkan telah berhasil membuat sendiri batang bahan bakar nuklir yang menjadi sumber energi reaktor nuklir. Batang bahan bakar yang mengandung uranium alam itu sudah diuji coba di dalam salah satu inti reaktor riset di Teheran.

Sanksi bagi Iran.

Dalam sanksi terbaru ini, setiap lembaga keuangan seluruh negara di dunia, baik milik swasta maupun pemerintah, termasuk bank sentral, dipaksa harus memilih, melakukan transaksi dengan Iran atau AS. Jika bank-bank tersebut masih melakukan transaksi dengan bank sentral Iran, mereka dilarang berhubungan dengan institusi keuangan AS.

Larangan ini berlaku untuk setiap transaksi keuangan yang berkaitan dengan jual beli minyak atau produk minyak. Sanksi tersebut bertujuan mencekik sumber pemasukan utama Iran dari komoditas minyak bumi yang selama ini dicurigai sebagai sumber dana bagi program nuklir Iran.

Meski demikian, beberapa pejabat pemerintahan Obama sendiri khawatir bahwa sanksi terbaru, yang disetujui mayoritas anggota Kongres, ini, bisa mengganggu hubungan AS dengan para sekutunya atau dengan negara-negara berpengaruh, seperti Rusia dan China, yang selama ini membeli minyak dari Iran.

Sumber : AFP/AP/Reuters/DHF